So-net無料ブログ作成
検索選択

Kepanjangan, Kependekan, Singkatan, dan Akronim [上級]

Seorang rekan Jepang yang celik bahasa Indonesia berpendapat bahwa penggunaan kata "kepanjangan" dalam artikel harian Republika berikut tidak tepat.

---awal kutipan---
Hamka, yang merupakan kepanjangan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah ulama dan penulis Islam-Indonesia modern yang produktif.
---akhir kutipan---

Arti lema "kepanjangan" dalam KBBI daring:

ke·pan·jang·an 1 n panjangnya: apa ~ huruf P di depan namanya itu?; 2 a cak terlalu panjang: tali ini ~; 3 n ki kelanjutan: ~ tangan pemerintah pusat, wakil pemerintah pusat;

Yang sesuai dengan pembahasan di sini tentu aja arti nomor 1.

Saya sependapat dengan rekan Jepang yang menunjukkan kesalahan tersebut. Kata "kepanjangan" dalam kutipan kalimat di atas seharusnya diganti dengan "akronim" atau (mungkin) "kependekan". Saya menulis mungkin dalam tanda kurung karena saya belum bisa menarik kesimpulan apakah "akronim" bisa dikategorikan sebagai "kependekan" atau bukan.

Maka kalimat yang saya kutip di atas seharusnya berbunyi:
Hamka, yang merupakan akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, adalah ulama dan penulis Islam-Indonesia modern yang produktif.

Saya sungguh heran, kesalahan penggunaan frasa "kepanjangan dari" ini sudah begitu jamak di kalangan penutur bahasa Indonesia. Kata "kependekan", "singkatan", atau "akronim" sering tertukar dengan kata "kepanjangan". Saking jamaknya kesalahan tersebut, saya sampai mengira, jangan-jangan saya yang salah?

Baiklah, untuk mencari tahu kebenaran penggunaan frasa "kepanjangan dari", mari kita telusuri contoh-contoh berikut.

Menurut saya salah:
- BNN adalah kepanjangan dari Badan Narkotika Nasional.

Menurut saya betul:
- Kepanjangan dari BNN adalah Badan Narkotika Nasional.
- BNN adalah singkatan dari Badan Narkotika Nasional.
- BNN adalah kependekan dari Badan Narkotika Nasional.

Mari kita lihat arti dan contoh penggunaan lema "kependekan" dalam KBBI daring.

ke·pen·dek·an 1 n perihal pendek; 2 n singkatan; ringkasan: KBBI adalah ~ dr Kamus Besar Bahasa Indonesia; 3 a terlalu pendek: celananya ~

Ternyata KBBI pun memuat contoh kalimat yang bisa kita jadikan pijakan untuk menguatkan asumsi saya tentang kesalahan penggunaan frasa "kepanjangan dari".

- KBBI adalah kependekan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Berarti kita tidak bisa mengatakan bahwa kalimat di bawah ini betul.

- KBBI adalah kepanjangan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Maka kalimat di bawah ini pun salah.

- Hamka adalah kepanjangan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Berikut beberapa contoh penggunaan frasa "kepanjangan dari" yang salah yang saya pungut dari beberapa situs:
- HTML itu kepanjangan dari Hyper Text Markup Language.
- Cosplay adalah kepanjangan dari Costume Player.
- AOindonesia kepanjangan dari Anime Otaku Indonesia.

Terakhir saya berpesan, jangan sampai Anda keliru saat menggunakan kata "singkatan" dan "akronim". :)

sing·kat·an n 1 hasil menyingkat (memendekkan), berupa huruf atau gabungan huruf (msl DPR, KKN, yth., dsb., dan hlm.); 2 kependekan; ringkasan

ak·ro·nim n Ling kependekan yg berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yg ditulis dan dilafalkan sbg kata yg wajar (msl mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, dan sidak inspeksi mendadak)

***
上級 (joukyuu): tingkat lanjut, advanced level
KBBI daring: Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan


nice!(0)  コメント(6)  トラックバック(0) 
共通テーマ:資格・学び

nice! 0

コメント 6

アルビー

Fenomena semacam ini adalah hal yang sangat wajar dalam perjalanan hidup sebuah bahasa.

Bahasa yang salah kaprah tapi justru dipakai.

Coba kita telusuri istilah "gali lubang".
Kita bukannya menggali "lubang" tapi menggali tanah untuk dijadikan lubang.
Namun, kata ini justru banyak diterima oleh pengguna bahasa Indonesia.
Lihat saja pepatah " gali lubang tutup lubang".

Dalam bahasa Jepang pun, misalnya御御御付け。baca : おみおつけjuga demikian. mulanya おつけ adalah bentuk sopan dari つけ。Tapi lama-lama orang lupa dengan rasa sopan おつけ dan menambahkan み pada おつけ。lalu orang lupa lagi dan menambahkan お pada みおつけ。

Bisa jadi kata ini suatu saat akan menjadi sepadan dengan istilah "singkatan".
by アルビー (2008-02-19 14:46) 

sepedaku

Wah, dunia saya bisa kiamat kalau suatu ketika nanti kalimat

- BNN adalah kepanjangan dari Badan Narkotika Nasional.

dianggap sama dengan

- BNN adalah singkatan dari Badan Narkotika Nasional. :)

Bagaimana mungkin dua hal yang jelas-jelas bertolak belakang bisa dianggap sama?

Menurut saya salah:
- HTML itu kepanjangan dari Hyper Text Markup Language.
Menurut saya benar:
- Kepanjangan dari HTML itu Hyper Text Markup Language.

Menurut saya salah:
- Cosplay adalah kepanjangan dari Costume Player.
Menurut saya benar:
- Kepanjangan dari Cosplay adalah Costume Player.

Saya menduga kekeliruan penggunaan frasa "kepanjangan dari" bersumber dari dua hal: 1) kekacauan penempatan frasa tersebut dalam kalimat; 2) kekeliruan diksi (menggunakan "kepanjangan" alih-alih "kependekan").

Lesapnya unsur "tanah" dalam pepatah "gali lubang tutup lubang" barangkali masih bisa dipahami (paling tidak dari segi rima), tetapi masalah kekeliruan penggunaan frasa "kepanjangan dari" bagi saya tidak lebih dari kekacauan bahasa dalam diri penggunanya.
by sepedaku (2008-02-20 09:30) 

アルビー

Pernah dengar "nggodok wedang" dalam bahasa Jawa kan?
お湯を沸かす.

Yang dipanaskan itu bukan "wedang" tapi air atau "banyu".

Aku kira masalah ini, bisa dilihat dari dua sisi. Sisi normatif yaitu dengan pendeduksian kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baku dan benar pada sebuah bentukan.
Atau
dengan meneliti, sejauh manakah bentuk"salah" tersebut memasyarakat. Misalnya dengan mengambil sampel atau angket. Dan jikalau memang gejala semacam ini menunjukkan angka yang signifikan secara statistik, barulah kita "curigai" apakah kaidah yang selama ini kita percayai itu mewakili semua fenomena atau tidak.

Coba Din, lihat kalimat ini:

1.Harga sudah termasuk pajak.
値段は、税込み。
Seharusnya kan ;

2.Pajak sudak termasuk dalam harga.
税は、値段の中に入っています。
Dalam kalimat yang memakai "ter"sbb,
3. Mereka hilang tertelan bumi.
Mereka = Subyek
Bumi = Pelengkap

kita bisa melihat bahwa Subyek berada dalam kategori atau ukuran yang lebih kecil.

Balik ke "termasuk". Dalam daring hanya dijelaskan sbb;
ter·ma·suk v 1 sudah masuk; 2 terhitung; tergolong

penjelasan ini tidak dapat menolong kita menghadapi fenomena
4, Harga termasuk pajak.

Karena, kalau kita substitusikan dalam kalimat 4. Bunyinya akan menjadi
5. Harga sudah masuk pajak.
A B
dengan A > B

Tapi jikalau demikian, saya tidak akan dapat mengakatan;
6. Saya masuk sekolah.
A B
Karena
Saya lebih kecil dari sekolah. (A < B)
********************
by アルビー (2008-02-20 18:12) 

アルビー

Dulu sering aku berdiskusi dengan Pak Untung yang dari UI tentang masalah-masalah ini. Yang terpenting adalah penentuan paradigma. Bahasa itu hidup. Dan jika memang sebuah bentukan kata, frasa itu diterima oleh sebagian besar masyarakat penggunanya, secara de facto,
pasti ada kaidah "tersembunyi" di balik itu yang masih harus dikaji dan diteliti ulang berkali-kali.
*************************************
Kembali lagi ke topik, untuk sekarang ini rasa bahasa aku tentang "kepanjangan" ini masih seirama dengan Dina. Tapi jika diteliti dengan angket ternyata secara statistik pemakaian "kepanjangan" yang salah ini menunjukkan angka yang signifikan, aku kira sangat bijaksana jika kita mencari kaidah-kaidah baru yang lebih holistik untuk menjelaskan fenomena tsb. Misalnya dengan pengakuan "kalimat bersubyek dua" seperti dalam " Gajah itu belalainya panjang".

Sehingga daripada mengatakan
[Kepanjangan dari Cosplay] adalah Costume Player.
S P
kita lebih memilih kalimat berikut dalam percakapan
[cosplay] itu [kepanjangan]nya adalah Costume Player.
S1 S2
dengan
S1 sebagai topik dan S2 sebagai subyek komentar.
by アルビー (2008-02-20 18:13) 

sepedaku

Arbee, terima kasih atas penjelasan tambahan yang sangat bermanfaat. Lengkap!

Saya harus mengakui bahwa saya diwatasi oleh waktu, tempat, dan pikiran. Waktu, karena saya tidak sepenuhnya mencurahkan waktu untuk meneliti bahasa Indonesia (ada kuliah dan anak, bok! Hehehe...). Tempat, karena media yang saya pilih sementara ini hanyalah blog, bukan jurnal ilmiah, dan saya belum berencana untuk lebih mengilmiahkannya. Pikiran, tentu saja, karena masih banyak yang harus saya pelajari tentang bahasa Indonesia dan segala kaidahnya.

Penjelasan Arbee di atas pasti sangat bermanfaat pula bagi pelajar bahasa Indonesia, dan saya tidak akan mengomentari kalimat-kalimat contoh lainnya supaya utas ini tidak melebar ke mana-mana.

Satu hal yang belum berubah, yaitu pendapat saya bahwa penggunaan frasa "kepanjangan dari" ini tidak lebih dari kekacauan penempatan fraksa dalam kalimat dan kekeliruan diksi. Apakah ini berpangkal dari salah kaprah yang lain lagi, nah...itu yang belum saya ketahui.

Nah, kalau ada pembaca yang tahu buku atau tulisan ilmiah yang mengupas fenomena ini, mohon kesudiannya untuk mengagihkannya kepada kita semua.

Tengkyu!
by sepedaku (2008-02-21 04:23) 

anarinanta

bahasa jepangnya singkatan kan 略語 ryakugo
klo 'kepanjangan' bahasa jepangnya apa? 'nagasa'?

by anarinanta (2013-05-23 01:02) 

コメントを書く

お名前:
URL:
コメント:
画像認証:
下の画像に表示されている文字を入力してください。

トラックバック 0

この記事のトラックバックURL:
※言及リンクのないトラックバックは受信されません。

関連リンク

tali   Language   Anime  
メッセージを送る

この広告は前回の更新から一定期間経過したブログに表示されています。更新すると自動で解除されます。